Senin, 06 April 2020

Puasa Week 2 Buncek Kepompong - Titik penyadaran

Assalamualaikum ibu-ibu pembelajar...

Sapaan saya tetap yah. Untuk ibu-ibu pembelajar. Kata ibu adalah penyadaran. Bahwa masa muda kita telah lewat. Saat ini kita adalah seorang ibu. Dilihat, didengar, dicontoh, ditiru secara gamblang oleh anak-anak kita. Mereka tak punya daya untuk menyaring mana baik buruk. Segala yang dilakukan ibunya adalah inspirasi mereka.

Oh para ibu. Sadarilah peran ini sangat berat. Bersungguh-sungguh saat anak masih kecil. Berletih-letih di masa kanak-kanak mereka. Lebih mudah. Dari pada nanti mereka sudah besar, tidak bisa diarahkan. Justru pertarungan hebat terjadi saat mereka masih di bawah 7 tahun. Investasikan waktumu untuk mengasuh mereka dengan totalitas perjuangan.

Nanti apa yang kita tanam selama masa kecilnya. InsyaAllah akan kita tuai saat mereka dewasa. Lalu apa saja yang telah kita tanamkan pada jiwa anak kita? Sudahkah sesuai tuntunan Ilahi. Atau sebatas kata ahli.

Sungguh merugi jika menggunakan standar selain Islam. Cita-cita anak hanya akan sebatas segala yang sementara. Bukankah kita akan segera pergi pulang ke negeri akhirat? Hujamkan cita-cita anak tentang keabadian yang dijanjikan Allah. Dialah yang menitipkan anak kepada kita. Serta segala yang kita miliki saat ini. Cuma titipan. Nanti akan dikembalikan baik secara sukarela maupun terpaksa. Dialah yang Maha Memaksakan Kehendak. Tidak ada yang berhak menanyakan "Mengapa ini terjadi padaku?". Terima. Akui diri hanya hamba yang mengikuti kurikulum pendidikan dariNya. Jawaban mengapa suatu hal terjadi padamu adalah... jelas. Sebab Allah menginginkan itu terjadi padamu. Sudah tertulis di lauh mahfudz. Jauh sebelum dunia ini dicipta. Tugas kita hanya berbuat yang terbaik, hasil ditentukan olehNya.

Saya sendiri merasa, musibah adalah petunjuk. Bahwa tidak ada yang pantas diharap di dunia ini. Semuanya melelahkan, mengecewakan. Jauh nyata dari harap. Semakin besar cobaan, semakin besar pula muak pada dunia. Berapa lama lagi aku harus tinggal Ya Rabb?

Bahagia hanya sekejab. Sakit, lelah, sepi berlangsung setiap nafas. Hanya cahayaMu yang membuat saya bisa bertahan sampai detik ini. Namun saat membaca kisah para orang-orang shalih dalam kitab. Betapa ujian yang saya hadapi tak ada secuil pun dari mereka yang mulia. Para nabi dan rasul, serta keluarga dan sahabatnya adalah penawar. Obat dari segala kegusaran hati. Teladan akhlak dalam menyikapi semua persoalan yang kecil ini.

Baiklah, puasa week 2 kelas kepompong saya adalah begadang. Alhamdulillah lumayan berhasil menidurkan anak-anak di bawah jam 9 malam. Sehingga mereka bisa bangun sekitar jam 6 pagi. Kemudian belajar di rumah sampai siang. Lalu bermain bebas sampai sore waktunya video call dengan guru ngaji.

Rupanya banyak juga lho walimurid yang mengabaikan tugas-tugas dari sekolah. Kata bu guru, beberapa anak tidak mengumpulkan tugas. Orangtuanya juga tidak ada respon. Oh malangnya anak itu. Orangtuanya melalaikan pendidikan anaknya. Mungkin mereka hanya ingin menyerahkan kepintaran anak ke sekolah. Tak ada urusan orangtua mengajar apalagi membantu anak membuat tugas yang seabrek banyaknya.

Serius. Selama pandemik ini, tugas dari sekolah lebih banyak dari biasanya. Tugas orangtua jadi dobel-dobel. Biasanya mengurus pekerjaan, eh sekarang jadi mengurus tugas anak pula. Bayangkan yang punya 3 orang anak. Maka ada 3 tugas yang harus dikirim ke guru yang berbeda, setiap hari. Beratnya. Alhamdulillah anak saya cuma 1 yang sudah sekolah. Walau baru kelas TK B, ada lebih dari 1 tugas harian. Sebetulnya mudah jika yang mengerjakan ibunya. Tapi anak harus mengerjakan sendiri kan. Itu tanggung jawabnya dari sekolah. Nah jika ada yang masih meremehkan tugas ibu di rumah. Cobalah mereka itu merasakannya terlebih dahulu. Berat dan akan lebih berat jika dijalani bukan untuk ibadah menggapai ridho Allah.

#janganlupabahagia
#jurnalpuasamingguke2
#materi1
#kelaskepomponh
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Sabtu, 28 Maret 2020

Jurnal Puasa Kepompong Week 1 - Buncek

Assalamualaikum teman-teman pembelajar...

Istilah puasa ternyata bagus juga digunakan untuk membentuk kebiasaan baru. Tidak hanya puasa soal makan dan minum, ataupun ibadah. Lebih dari itu, kita bisa menerapkan konsep puasa dari hal-hal yang menjauhkan kita dari target produktif loh.

Contoh target produktif saya selama kelas kepompong satu bulan ini adalah menjadi youtuber. Sehingga dalam 30 hari saya ingin menghasilkan 30 video. InsyaAllah. Lumayan target yang tinggi bagi pemula. 1 hari 1 video. Sebab saya mengelola 2 channel youtube anak saya, yakni Rubichan Kids dan Super Roshan. Yup, 1 anak 1 channel karena aksi masing-masing anak berbeda sesuai usia dan jenis kelamin, otomatis target penontonnya juga beda.

Puasa apa saja yang saya lakukan? Berikut rencananya:

  1. Minggu pertama ini puasa dari media sosial. Artinya tidak membuka medsos kecuali untuk posting. Jadi tidak meluangkan waktu sama sekali untuk membuka medsos jika hanya sekedar scroll, kepo, atau searching tidak jelas. 
  2. Minggu kedua puasa dari begadang. Ingin cepat tidur dan cepat bangun. Ini juga berlaku bagi anak-anak. Tidak mungkin mamanya tidur duluan sementara anaknya masih main. Target bangun untuk mama adalah sebelum adzan subuh, sedangkan target bangun untuk anak adalah sunrise atau saat matahari terbit.
  3. Minggu ketiga puasa dari ngaret. Maksudnya saya harus lebih patuh dengan jadwal yang telah saya buat sendiri. Ada 10 rutinitas harian yang sudah terjadwal dengan rapi dan wajib saya ikuti karena saya yang membuatnya sendiri.
  4. Minggu keempat puasa dari blast. Blast singkatan dari bored, lonely, angry-afraid, stress, tired untuk anak. Artinya saya akan berusaha membuat anak tidak merasa blast. Terutama di masa karantina covid19 alis corona ini. Anak di rumah saja. Kegiatan parttime homeschooling berperan besar untuk menghilangkan blast pada anak.
Review puasa minggu pertama. Hasilnya menggembirakan! Alhamdulillah memang dasarnya saya bukan media-savvy sih ya. Jadi menghilangkan medsos dari hidup saya relatif mudah. Seminggu ini saya jika ada keinginan untuk membuka medsos, maka saya bertanya pada diri sendiri. Apa yang akan saya posting di medsos? sehingga saya pun membuka aplikasi produktif. Menulis konten dulu atau membuat video dulu. Kemudian baru buka medsos untuk posting dan share. 

Yup begitulah cara mudah untuk menghilangkan kebiasaan buruk dan sia-sia di medsos. Jangan sampai waktu habis untuk scroll tanpa tujuan. Jadikan medsos untuk belajar, berbagi, dan menghasilkan sesuatu. Selain daripada itu? tidak perlu. Alihkan waktu kita untuk kegiatan lain yang lebih manfaat dan berkah.


#janganlupabahagia
#jurnalpuasamingguke-1
#materi1
#kelaskepompong
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Selasa, 17 Maret 2020

Siap Jadi Kepompong


Assalamualaikum ibu-ibu pembelajar...

Berakhirnya kelas buncek tahap ulat-ulat pada minggu ini melegakan sekali. Setiap minggu, kami harus rela kehilangan teman belajar yang terpaksa harus menghentikan langkah di kelas. Mereka terkena drop out sebab tidak mengerjakan tugas sesuai deadline. Dengan jadwal yang intense, Rabu bertemu, kamis diskusi, Jumat merenung, Sabtu-Minggu hari keluarga sambil berpikir, Senin mulai mengerjakan, dan terakhir Selasa mengirimkan tugas.

Sungguh yang bertahan adalah para ibu pejuang cinta keluarga. Mau berletih mencerna materi. Sanggup mengatur waktu walau berpeluh. Tidak mengeluh di tengah pilu. Serta komitmen pada aturan demi ilmu pengetahuan.

Berapa banyak ibu di luar sana yang mampu menerima amanah dengan ikhlas, bahagia, dan penuh kepatuhan. Tentu lebih banyak yang abai daripada yang amanah. Itulah fitrah dunia. Tinggal kita mau berubah atau pasrah?

Pasrah pada kehidupan biar berjalan seperti air mengalir. Tanpa tujuan, batas waktu sampai kapan begini? Oh no. Itu adalah pilihan orang-orang yang menyerah. Buktikan bahwa kita adalah pejuang kebenaran. Mau berubah untuk kebaikan masa depan.



Saat ini diri kita terpapar pemikiran yang tidak sesuai ajaran s
ang Nabi. Akankah kita mencari jalan tuk kembali ataukah berdiam diri? Bahwa seorang perempuan memiliki potensi untuk berkarya setara dengan lelaki. Harus berpenghasilan sebesar lelaki. Berkiprah sama dengan lelaki. Tak ada batasan. Ya boleh. Boleh saja mengikuti pemahaman seperti itu jika perempuan itu mau dan mampu.  Sebenarnya perempuan tetaplah berbeda dengan lelaki. Secara fisik dan psikis, perbedaan itu nyata adanya. Sehingga akhirnya saya menerima kenyataan. Memutuskan untuk memilih setara dalam hal kehormatan, kemuliaan, literasi pengetahuan, dan ketaqwaan. Soal karya dan kiprah, saya memilih untuk produktif di ranah domestik. Sama-sama keren, bisa bekerja dan berpenghasilan. Hanya beda lajur arah, namun bertemu di persimpangan.

Sementara itu, anak kita terpapar gaya hidup serba instan sedari usia dini. Mau makan ada fast food. Jika bosan tinggal main games di handphone. Tidak bisa diam langsung diperlihatkan video youtube. Ingin jalan-jalan otomatis naik taksi online. Lalu saat keinginan tak dituruti yang terjadi adalah amukan besar. Dimana waktu bagi anak untuk mengerti adab, sopan santun, dan menghargai proses? Itu porsi orangtua di rumah. Sekolah sudah cukup repot dengan segala target kognitif pendidikan bagi otak. Bukan untuk jiwa dan perasaan anak. Jangan merasa telah selesai tugas setelah menyekolahkan anak. Itu hanya satu aspek kebutuhan. Sudah saatnya orangtua peduli untuk memberi asupan makanan bagi jiwa anak yang kering. Itulah sumber dari kenakalan remaja. Usia sudah di atas 15 tahun tapi perilaku kekanakan, jauh dari kata matang apalagi dewasa. Parah.

Komunitas ibu profesional menjawab tantangan jaman dengan mendewasakan sang ibu. Dialah garda terdepan dalam membentuk lingkungan keluarga. Unit terkecil dalam masyarakat yang mampu mengubah wajah generasi masa depan. Satu anak baik jauh lebih berhak mendapat penghargaan daripada anak yang sekedar pintar. Tentu lebih sempurna lagi jika para ibu profesional mampu mencetak generasi baik sekaligus pintar.  InsyaAllah.

#bundacekatan #kelasulat #institutibuprofesional #aliranrasatahapulat

Selasa, 10 Maret 2020

Di Tepi Sungai Kehidupan Bersama Buddy - Buncek 8


Assalamualaikum teman-teman pembelajar…

Tiada tujuan yang lebih tinggi dari belajar selain untuk menyempurnakan akhlak/perilaku. Selama ini manusia belajar ini dan itu dalam jangka waktu belasan tahun. Memperoleh beragam penghargaan, sertifikat, titel, gelar, dan sebagainya. Tampak wah dari luar. Semua itu memang hebat.  Banyak yang mengaguminya. Ingin mengenalnya lebih dekat.

Seberapa yakin jika kita benar-benar mengenalinya. Mengikuti laku kehidupannya. Berbicara dan berinteraksi dengannya setiap hari. Maka kita akan puas. Sebahagia saat kita hanya melihatnya dari kejauhan.

Sudah lelah kita disuguhi profesi yang tak profesional menjalankan perannya. Oknum polisi yang tak melindungi. Dokter yang malah membuat tambah sakit. Guru yang membodohi. Ibu yang menelantarkan anak. Ayah yang mengabaikan keluarga. Anak yang durhaka. Profesor yang merusak dunia. Obat yang meracuni. Serba terbalik dari fitrah masing-masing.

Itulah yang kita hindari. Sebagai pembelajar sejati. Apa yang perlu diperbaiki ialah diri sendiri. Akhlak diri sendiri dulu. Tak perlu sempurna, namun ada kesungguhan untuk mengakui kesalahan dan tak mengulanginya lagi. Komitmen untuk menuju lebih baik.

Sekarang apa profesimu? Apa peranmu? Siapakah engkau? Menepilah dari keramaian. Merenung dalam kesendirian. Temukan jiwa. Sembuhkan luka hati. Bukankah kau lelah tenggalam dalam jurang kepalsuan. Hilang arah tak tahu arah hidup mau kemana. Terus saja mengikuti kemauan. Meski pada akhirnya selalu saja menyesal saat sadar itu tak dibutuhkan. Apa boleh buat? Hati yang sakit terlanjur menimati hidup menderita dalam keburukan daripada menelan obat penawar kesembuhan.

Alhamdulillah buddy saya mb Fitria sudah menemukan dirinya. Ia akan berproses menjadi kupu-kupu yang bahagia lahir batin. Menyendiri untuk satu bulan ke depan. Sambil menyelami makna mindmap dan arti kebahagiaan miliknya. Ini bekal dari saya, semoga mampu menemani gulita dalam kepompong mb Fitria.




  1. Soal menata hati. Serahkan pada pemilik hati. Dialah Allah yang Maha membolak-balikkan hati di antara jari tangannya. Saya mintakan padaNya agar mb Fitria diberikan hati yang hidup dengan selalu dzikir dan shalawat.
  2. Soal parenting. Telah ada suri tauladan terbaik dari manusia. Beliau adalah Nabi Muhammad SAW. Beserta kisah terbaik dalam Al-Quran, pedoman hidup kita. Tiada hari tanpa kita mengisahkan Nabi dan Rasul, Ummahatul mukminin, sahabat kepada anak-anak kita.
  3. Memasak dan berkebun. Selalu melibatkan anak agar ia senang. Usia anak 0-4 tahun, peran kita adalah comforter (pelindung ternyaman) bagi mereka. Jadilah ibu penyayang yang kehadirannya selalu dirindu. Bukankah anak-anak nabi Ya'kub membuang Yusuf ke dalam sumur, kemudian sang ayah tak memarahi mereka. Ia memaafkan dan meminta pertolongan pada Allah untuk bersabar. Seberapa besar kesalahan anak kita? Tentu tak sampai seberat kisah ini.

Terakhir, semoga kita semua bisa terus mencari, mencintai, dan mengamalkan ilmu. Perhatikan anak-anak kita, apa yang menggerakkan hatinya? Apakah perkara dunia ataukah akhirat. Gunakan ilmu utamanya untuk memperbaiki akhlak diri sendiri sebelum menyebarkannya. Tiada guna banyak ilmu tanpa perubahan diri pada ketaqwaan dan ketaatan pada Allah dan Rasulullah.



#janganlupabahagia
#jurnalminggu8
#materi8
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Selasa, 03 Maret 2020

Hasil Berkelana di Hutan Ilmu Buncek

Assalamualaikum pembelajar ilmu kehidupan...

Berkelana dalam pencarian ilmu akhirnya mencapai muaranya. Tempat si ulat yang sudah cukup makan dengan lahap. Ia tidak merasa lapar ataupun kenyang. Cukup. Semua makanan utama sudah dilahapnya. Beruntung dia tidak tipe yang tidak suka cemilan. Perutnya tidak muat.

Tujuan ulat yaitu menjadi kupu-kupu "mom writer". Profesional sebagai ibu dan penulis. Filosofinya adalah bersungguh-sungguh di dalam. Kemudian keluar dengan memancarkan keindahannya. Semata untuk meraih ridho Sang Pencipta yang telah menitipkan sayap.

Berikut ini jejak piring kosong yang makanannya telah dihabiskan oleh si ulat......

Seperti yang terlihat di gambar atas. Komposisi antara peran mom dan writer yakni 70% dan 30%. Artinya si ulat memang memprioritaskan peranan mom terlebih dahulu. Kemudian writer menjadi peranan sampingan.

Berikut ini review si ulat selama perjalanan di belantara ilmu...

Berdasarkan hasil talent mapping, si ulat termasuk tipe intellection dominan bagan sebelah kiri. Sesuai dengan review di atas, si ulat membutuhkan perenungan mendalam untuk menemukan formula yang paling mujarab dalam meraih cita-citanya.



Selasa, 25 Februari 2020

Hadiah Ilmu Untuk Temanku


Assalamualaikum teman-teman pembelajar..

Tugas buncek kali ini adalah memberikan hadiah potluck secara personal ke teman. Naturally kita memang senang diberi hadiah oleh seseorang bukan? Bagaimana jika kita duluan yang harus memberikan hadiah? Rasanya agak ribet sih. Utamanya di kelas ulat-ulat ini, setiap orang sudah mempunyai makanan utamanya sendiri. Maka si pemberi hadiah harus mempersiapkan makanan yang sesuai selera penerima.

I know who I am, what I want, and what to do.

Beberapa waktu lalu saya mengikuti sebuah seminar parenting entah yang ke berapa kalinya. Ada yang menarik di sesi terakhir yang saya ikuti. Ditanyakan ilmu apa yang paling digandrungi setelah kita menjadi orang tua? Itulah ilmu parenting. Apa kunci dalam parenting? Ah lewatkan segala teori dan konsep bala-bala. Tanpa keikhlasan, semua itu zonk.

Dikisahkan dahulu ada seorang wanita bertanya kepada Khadijah ra, "Engkau pasti sangat bahagia menikah dengan Rasulullah wahai Khadijah?
Dijawab, "Sejak aku menikah dengan beliau, aku tidak pernah memikirkan kebahagiaanku. Aku hanya memikirkan bagaimana agar beliau bisa bahagia menikah denganku".
Ya Rabb, inilah tingkatan mencintai yang tertinggi. Bukan saling xxx, saling xxx, saling xxx. Melainkan giving, giving, giving. Memberikan diri secara total, ikhlas. Itulah cara mencintai yang sesungguhnya. Seperti ibu pada anaknya. Hanya ingin memberi tanpa meminta. Mudah diucap, tapi sulit, hanya mampu dilakukan oleh orang yang ikhlas.

Dalam berbagi ilmu, kita bisa meniru ibu Khadijah. Jangan memikirkan nanti aku dapat apa atas ilmu yang kuberikan? Ingat, balasan hanya dari Allah. Beri terus, semoga ilmu kita berkah. Jika dapat balasan langsung berarti kontan. Jika tak ada balasan berarti banyak simpanan untuk dibuka suatu saat nanti.

Hadiah yang saya berikan ke beberapa orang teman antara lain:
Nama & regional
Hadiah
Respon
Wini Ip Depok
Manajemen waktu ibarat pedang
Membalas hadiah tentang disiplin positif
Emma Ip Surabaya
Manajemen emosi cara Islam
Membalas hadiah worksheet daily activities untuk anak
Firda Ip Tangsel
Manajemen emosi cara Islam
Majalah Alfalah konsep aqil baligh sesuai fitrah

Masih ada beberapa lagi lainnya yang saya tiba-tiba diberi, namun karena keterbatasan waktu saya tak mampu tuk membalas hadiah. Saya khawatir jika memberi tak sesuai yang diharapkan. Butuh waktu untuk merespon tanda terima, tak sekedar ucapan terima kasih saja. Apalagi waktu untuk mempersiapkan dan mengirimkan hadiah.

Pendalaman ilmu talent maping yang saya inginkan jadi lebih kaya berkat kiriman hadiah dari teman-teman. Rencananya saya akan mengundang tetangga untuk berbagi talent mapping kepada anak-anak mereka. Saya rasa ilmu ini sangat bermanfaat dan ada kewajiban moril tuk berbagi. Ilmu tidak ada gunanya sebelum digunakan. Ilmu akan bertambah setelah dibagikan.

Barakallah..



Selasa, 18 Februari 2020

Camping Bersama Teman Baru - minggu ke 5 Buncek

Assalamualaikum teman-teman pembelajar...

Sedih sekali saya tadi sudah menulis banyak tentang jurnal ini. Tiba-tiba laptop tiba-tiba berhenti dan minta di restart. Tulisan sebanyak itu blast. Hilang tak berbekas. Padahal penuh perjuangan, dari tadi pagi sambil mengalihkan perhatian anak-anak agar tidak mengganggu tulisan ini.

Sekarang nulis baru lagi kok rasanya sudah lemas, sedih, tak bersemangat seperti tadi. Hal ini mengingatkan saya untuk tidak bergantung pada selain Allah. Sebab semua buatan dan rencana manusia pasti berakhir dengan rasa kecewa. Hati terasa sempit dan mata seolah gelap. Betapa sedihnya saya. Tulisan yang hampir rampung tadi hilang begitu saja.

Baiklah, saya menerima kenyataan ini dengan ikhlas. Pada intinya jurnal saya minggu ini adalah yang terbaik selama saya berada di perkuliahan Institut Ibu Profesional. Standar dari Kak Peni hanya 5 orang teman camping. Wow saya bisa mendapatkan 51 orang dengan cara mencantumkan nomor wa di kolom komentar FBG. Alhamdulillah. Berikut ini beberapa teman yang saya temui.


Kelas di Buncek ini memang punya daya magnetnya masing-masing. Jika tak tahu arah, bisa saja masuk ke semua kelas untuk menyerap semua ilmu. Sayangnya kapasitas dan tenaga sang ulat terbatas. Ia tak bisa jadi spons. Ia wajib memilih, makanan yang tepat untuknya detik ini, saat ini, bulan ini, sesuai mindmap kebutuhan dirinya. Nampaknya semua teman camping yang saya temui benar-benar paham mantra makan secukupnya. Mereka bisa menjawab dengan lugas apa kelas utamanya. Berikut diagram yang sudah saya petakan sesuai hasil ngobrol bareng teman camping.



Menarik! Saya menemukan 23 minat dari 51 teman. Ini menunjukkan kesuksesan metode Kak Peni dalam membantu kami semua menemukan diri kami sendiri. Tidak tergoda untuk menjadi orang lain apalagi meniru mereka. Ternyata bahagia itu sederhana. Cukup dengan mampu mengatasi segala tantangan harian yang dihadapi oleh diri kita sendiri. Makin cerdas kita mengelola berbagai tantangan harian, makin bahagia diri kita. Sehingga tak ada waktu kepo akan hal sia-sia yang bukan prioritas. Salut untuk Institut Ibu Profesional, Bravo!

Masterminds dan False Celebration