Jumat, 15 Mei 2020

Serunya Menjadi Mentee Berkisah dan Mentor Pure Heart Sekaligus

Assalamualaikum ibu-ibu pembelajar...

Bagi para pecinta ilmu, kadang perjalanan mencari ilmu bisa jadi melelahkan dan membosankan. Cara kreatif dari tim ibu profesional di kelas kupu-kupu saat ini sangat menantang. Kami semua diminta untuk jadi mentee dan mentor sekaligus.

Selama 8 minggu bersama mentee dan mentor yang sama. Bosan ga tuh? Tergantung cara masing-masing. Tapi saya tidak jenuh loh. Malah overload happiness. Bahagiaa sekalii. Bagaimana tidak? Saya mendapat mentor dengan bidang yang sesuai mindmap yakni berkisah untuk anak. Serta mendapat mentee untuk belajar tentang cara mengatasi masalah secara Islami.

Di minggu kedua ini kami menentukan tujuan selama program mentorship.
1. Sebagai mentee saya bertujuan untuk membuat kurikulum berkisah untuk anak,
2. Sebagai mentor saya bertujuan membantu mentee menemukan caranya sendiri untuk menghidupkan ruh, tak sekedar hidup untuk raga.

Assessment diri sendiri yakni saya menilai tingkat keahlian yang sedang saya asah saat ini menurut saya pribadi seperti apa, apakah pemula baru mulai belajar, apakah selama ini sudah mendalami dan ingin menambah jam terbang, atau saat ini sedang ingin mempelajari teknik tertentu di keahlian tersebut. Jadi sebagai mentee berkisah saya termasuk sudah mendalami dan perlu mengasah jam terbang. Sejak anak usia 2 tahun saya sudah membacakan kisah padanya. Saya juga mengikuti pelatihan dan training berkisah yang diadakan komunitas cinta anak dan komunitas pengkisah nasional. Selain itu saya mengoleksi buku-buku cerita anak. Serta berencana menjadi penulis kisah, modalnya sudah bergaul dengan para penulis dan editor dari beberapa penerbit mayor.

Selanjutnya yang akan saya lakukan sebagai mentee berkisah yaitu:
a. Membuat jadwal berkisah secara teratur setiap hari,
b. Lebih banyak membaca siroh nabawiyah sebagai bekal berkisah tanpa buku,
c. Membuat komunitas berkisah di lingkungan terdekat,
d. Menulis naskah untuk diterbitkan.


Kemudian assessment diri sebagai mentor, saya berpengalaman selama lebih dari 6 tahun menjalani rumah tangga yang dianugerahi banyak hal untuk disabari dan disyukuri. Meski akhirnya kandas, saya merasa tidak gagal dalam mempertahankan bahtera sebab standarnya adalah iman dan taqwa. Semua sudah sesuai dengan syariat Islam. Ketetapan Allah lah yang menentukan takdir saya menjadi singleparent. Ya gapapa. Yang menentukan seseorang itu baik di mata Allah bukan statusnya, single, menikah, duda, janda, anak, muda, tua, atau pekerja. Standar dari Allah cuma satu, tak bisa ditawar dan digugat yakni taqwa.

Sudah berapa lama kita hidup? Sudah sehidup apa ruh kita? Selama ini lebih banyak mana waktu untuk menghidupkan ruh daripada raga yang sifatnya sementara? Jika berhasil menjawab pertanyaan ini semua, insyaAllah kita akan menjadi hamba yang 100% menghamba. Menerima Qada' dan Qadar-Nya sepenuh cinta. Tidak ada lagi pikiran sempit yang mempertanyakan, "Mengapa ini terjadi padaku". Hei! Jika sudah menjadi kehendakNya siapa kita berani menyangsikan. Siapa diri ini di hadapan Sang Rabb Pencipta Penguasa Seluruh Alam? Yakin, pasti itulah yang terbaik. Tinggal bagaimana kita memetik hikmah dan mengambil pelajaran.

Selanjutnya sebagai mentor yang baik, saya akan berusaha membantu mentee menemukan cara yang tepat untuk lebih mengenal diri sebagai hambaNya. Sehingga ia bisa menghadapi berbagai permasalahan. Menemukan ketenangan jiwa melalui tarbiyah yang berkelanjutan. Serta mengenal teladan terbaik Nabi Muhammad SAW dan pemimpin wanita surga Fatimah Azzahra. Sungguh segala yang kita hadapi saat ini tidak ada apa-apanya dibandingkan keduanya. Jangan sedih berlebihan, justru kejatuhanmu adalah saat berharga untuk menghapus harap pada manusia dan dunia. Jadikan musibah sebagai sarana pembuktian bahwa kita adalah penjuang cinta Allah dengan cara sabar, tenang, ikhlas menerima ketentuanNya. Alhamdulillah for everything.


Oh iya hampir lupa, soal video call pertama kali dengan mentor dan mentee saya secara personal. Berkesan. Biasanya hanya chat di facebook messanger. Akhirnya kami bisa bersua lewat video. Meski ada gangguan sinyal yang kadang membuat suara putus-putus dan gambar jadi blur. Tapi akhirnya kami bisa saling memandang, melihat auranya, gesture tubuh, dan susananya memang berbeda. Alhamdulillah semuanya terjadi antara wanita. Semakin cinta dengan institut ibu profesional.

#InstitutIbuProfesional
#jurnalminggukedua
#kelaskupukupu
#bundacekatan






Jumat, 08 Mei 2020

Jurnal Kelas Kupu-kupu Buncek 1

Assalamualaikum ibu-ibu pembelajar...

Alhamdulillah minggu ini saya masuk di tahap terakhir dari program bunda cekatan. Setelah kelas kepompong usai, sekarang mulai menjadi kupu-kupu. Belajar mengepakkan sayap untuk pertama kalinya. Caranya yaitu dengan dobel tugas menjadi mentee dan mentor sekaligus. Dalam waktu yang bersamaan.

Sekitar 1500 mahasiswi berebut posisi menjadi mentee. Tidak sulit. Semua bisa mendapatkan mentor dambaannya. Tapi bagaimana dengan menjadi mentor? Rupanya tidak semua dapat kesempatan itu. Banyak mentor punya lebih dari satu mentee. Otomatis banyak mahasiswi hanya kebagian peran jadi mentee tanpa kesempatan jadi mentor. Yah mau bagaimana lagi, jodoh telah habis. Kenyataan harus berdamai dengan diri sendiri. Menerima untuk saat ini jadi mentee saja, itulah yang terbaik.

Saya termasuk beruntung punya dobel peran. Awalnya merasa kemaruk ingin jadi mentee di beberapa bidang. Punya mentor lebih dari satu. Oh rupanya harus pilih satu. Jadi saya mantapkan hati memilih mentorship tentang Berkisah untuk membentuk karakter anak. Mentor saya yaitu mba Roza Sunita dari Pekanbaru.

Separuh AlQuran adalah kisah. Allah mengajarkan ilmu kepada manusia lewat kisah. Sebagai seorang ibu sepatutnya kita meniru caraNya ini. Mendidik anak dengan kisah teladan. Membicarakan Nabi dan Rasul. Orang-orang shalih, ulama terdahulu. Cara hidup yang sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW. Berkali-kali saya menyampaikan pada anak agar tidak meniru saya, tapi contohlah Nabi yang kisahnya selalu kami bincangkan. Saya tentu banyak sekali kekurangan, sehingga tidak layak ditiru.

Peran sebagai mentor berjalan sangat indah. Buddy saya yang lalu di kelas kepompong mengajukan diri sebagai mentee, mb Istyari Fitria dari Lamongan. Ditambah satu lagi mb Putri Rizki Arlita dari Garut. Saya menawarkan mentorship tentang cara menyikapi masalah rumah tangga berdasarkan syariat. Sebuah cara mengatasi persoalan tanpa melibatkan perasaan dan logika berlebihan.

Wanita muslimah itu beda dari wanita pada umumnya. Mereka ada yang mengedepankan perasaan dan ada yang memaksakan logika. Nah muslimah tidak bergantung pada itu semua. Begini, perasaan dan logika kita sempit dan terbatas. Belum tentu benar. Malah seringkali berlebihan. Kita tidak bisa klaim segala yang ada di pikiran adalah nyata sebelum konfirmasi kesana kemari. Maka sudah seharusnya kita tidak bertindak berdasarkan perasaan dan logika, tapi pakai syariat. Pasti benar dan pasti sempurna. Meski hati terluka, namun ada sisi lega sebab berusaha taat padaNya. Siapa yang patuh akan dibalas dengan cinta dan bahagia. Siapa yang tak ingin mendapat ridhoNya? Dia yang tidak pernah ingkar, Maha Indah, Maha Cinta.

Inti tujuan dari kedua mentee saya yaitu ingin mempelajari cara agar lebih bijak dalam mengatasi persoalan rumah tangganya masing-masing. Tentu masalah yang dihadapi berbeda. Sehingga personal chatting dengan pendekatan personal lewat fb messanger berperan disini. Semoga saya bisa menjadi mentor yang baik.

#jurnalkupukupu
#institutibuprofesional
#bundacekatan
#mentordanmentee

Jumat, 24 April 2020

Anak anti Bosan di Rumah Aja

Assalamualaikum ibu-ibu pembelajar...
Alhamdulillah kelas buncek sudah merayakan lebaran duluan. Unik yah. Karena kelas kepompong sudah selesai puasa satu bulan untuk kebiasaan buruk. Di minggu ke empat ini saya puasa dari blast (boring, lonely, anger, stress, and tired) anak.

Beberapa hal yang saya lakukan agar anak tidak bosan di rumah aja:
1. Selalu membiasakan bangun pagi dan tidur sebelum jam 9 malam
2. Taat waktu olahraga, belajar, dan bermain
3. Mendorong kemandirian makan, mandi, berpakaian, jajan sendiri

Pagi hari, anak beres dengan diri sendiri seperti sudah mandi dan sarapan. Kemudian olahraga dulu seperti naik sepeda atau sepatu roda. Selanjutnya belajar di rumah. Tapi namanya anak-anak ya kadang tidak sesuai jadwal. Seringkali maunya main dulu baru belajar. Saya bolehkan asal sudah belajar ngaji. Bisa loh si anak mengikuti peraturan.

Saat anak sedang main, mereka serius. Maka saya mundur, hanya melihat dari jauh. Sebisa mungkin tidak mengganggu apalagi menyela bahkan menghentikan tiba-tiba (seperti yang dilakukan ibu-ibu lainnya). Nanti anak jadi sedih, tidak semangat belajar. Mereka butuh ruang untuk bermain, biarkan hajat itu selesai sampai tuntas. Kita ingatkan saja soal waktu. Berapa lama waktu yang sehat untuk bermain bersama teman sebaya, bermain bersama gadget, dan nonton kartun. Masing-masing ada porsi menit tersendiri.

Jika anak lalai barulah kita boleh menyela, bahwa ada tugas lain yang belum dikerjakan. Jadi para ibu seolah bermain layang-layang. Kadang perlu diulur, kadang ditarik. Jangan ditarik terus si anak nanti tidak bisa terbang tinggi. 

Saat si anak lelah bermain di luar dan merasa bosan. Inilah waktu yang tepat untuk para ibu berhenti dengan segala macam pekerjaan. Si anak sedang minta diperhatikan. Si ibu bisa masuk dengan kisah dan nasihat untuk menyentuh jiwa anak. Ajak anak untuk mendengar kisah teladan nabi dan orang shalih. Atau bisa evaluasi tentang kesalahan di hari kemarin. Tentu dengan bahasa dan cara menasihati yang paling baik. Satu caranya adalah memaafkan terlebih dahulu sebelum anak meminta maaf. Jika masih ada amarah sebaiknya hindari menasihati sebab nanti nasihatnya tidak sampai ke hati. 

Jurnal Week 4 Kelas Kepompong Bunda Cekatan - Institut Ibu Profesional
#jurnalpuasaminggu4

Jumat, 17 April 2020

Jurnal Week 3 Puasa Ngaret kelas kepompong

Assalamualaikum ibu-ibu pembelajar...

Minggu ketiga dari kelas kepompong. Alhamdulillah. Makin dekat waktu untuk menjadi kupu-kupu indah. Wah berarti sudah tiga minggu saya menjalani tirakat puasa. Pertama, puasa medsos sampai sekarang masih berjalan konsisten. Kedua, puasa begadang demi anak sampai sekarang juga lancar sebelum jam 9 malam sudah masuk kamar tidur. Lalu sekarang puasa ngaret hasilnya masih belum maksimal.

Puasa ngaret ini agak berat. Tapi sangat menantang. Sebelumnya tidak ada rutinitas wajib, sekarang semua jadi serba terjadwal rapi. Biasanya pagi, anak bebas mau main. Sekarang mereka harus olahraga dulu kemudian homeschooling gara-gara korona.

Si sulung senang sekali dengan homeschooling. Setelah beberes pagi dan sarapan, dia olah fisik seperti naik sepeda, sepak bola, lari-lari, dan ada tambahan belajar sepatu roda. Kemudian lanjut ngaji dan mengerjakan tugas dari sekolah. Variasi tugas dari guru bermacam-macam seperti menggambar, mewarna, menulis, menghitung, menggunting, menempel, dan menghafal doa serta hadis. Malam habis magrib video call murojaah dengan guru ngaji dan mengirim video hafalan ke para guru dan kakek nenek di Mojokerto.

Hikmah dari homeschooling ini banyak sekali. Selain si anak menikmati waktu kedekatan dengan ibunya di rumah. Si ibu juga belajar mengatur waktu untuk memastikan tugas-tugas yang bejibun itu selesai dengan sempurna dan tepat waktu. Besok hari Sabtu waktunya mengumpulkan tugas ke sekolah jam 7.30-9.00. Jadi seminggu sekali tugas-tugas dinilai kemudian dibawa pulang ke rumah lagi untuk dikerjakan.

Terdengar sangat sibuk? Iya sih. Memang padat dan bergizi. Sekitar jam 12 siang si kakak bisa istirahat. Biasanya dia main mobil-mobilan, kejar-kejaran dengan adiknya, nonton film favorit seperti paw patrol, pocoyo, tank war,  story bots, peppa pig, dan channel youtube-nya sendiri super roshan.

Kapan dong waktu untuk bikin konten youtube? Sebisanya saja. Seringkali tingkah pola anak ada yang bagus untuk di video. Spontan saat itu juga saya rekam. Jadilah konten untuk youtube. Yah sesederhana itu. Syukur channel si adik Rubichan Kids sudah mencapai 1000 subscriber pertama setelah 9 bulan upload pertama kali. Semoga channel kakaknya segera menyusul juga.

Asal konsisten, puasa ngaret ini bisa terus jalan. Hasil memang tidak ditentukan usaha. Tapi hasil selalu setia dengan usaha. Tidak perlu berpikir yang muluk-muluk. Cukup terus berusaha, berjalan dengan pernuh keyakinan dan ketenangan. Nanti akan datang rezeki yang telah dijanjikan. Saya tanamkan pada anak-anak bahwa hidup ini bukan mencari kepuasan, melainkan ketenangan. Dengan jiwa yang tenang kami akan kembali ke jalanNya. InsyaAllah.

#jurnalpuasaminggu3
#janganlupabahagia
#materi1
#kelaskepompong
#bundacekatan
#buncekIIP
#Institutibuprofesional

Senin, 06 April 2020

Puasa Week 2 Buncek Kepompong - Titik penyadaran

Assalamualaikum ibu-ibu pembelajar...

Sapaan saya tetap yah. Untuk ibu-ibu pembelajar. Kata ibu adalah penyadaran. Bahwa masa muda kita telah lewat. Saat ini kita adalah seorang ibu. Dilihat, didengar, dicontoh, ditiru secara gamblang oleh anak-anak kita. Mereka tak punya daya untuk menyaring mana baik buruk. Segala yang dilakukan ibunya adalah inspirasi mereka.

Oh para ibu. Sadarilah peran ini sangat berat. Bersungguh-sungguh saat anak masih kecil. Berletih-letih di masa kanak-kanak mereka. Lebih mudah. Dari pada nanti mereka sudah besar, tidak bisa diarahkan. Justru pertarungan hebat terjadi saat mereka masih di bawah 7 tahun. Investasikan waktumu untuk mengasuh mereka dengan totalitas perjuangan.

Nanti apa yang kita tanam selama masa kecilnya. InsyaAllah akan kita tuai saat mereka dewasa. Lalu apa saja yang telah kita tanamkan pada jiwa anak kita? Sudahkah sesuai tuntunan Ilahi. Atau sebatas kata ahli.

Sungguh merugi jika menggunakan standar selain Islam. Cita-cita anak hanya akan sebatas segala yang sementara. Bukankah kita akan segera pergi pulang ke negeri akhirat? Hujamkan cita-cita anak tentang keabadian yang dijanjikan Allah. Dialah yang menitipkan anak kepada kita. Serta segala yang kita miliki saat ini. Cuma titipan. Nanti akan dikembalikan baik secara sukarela maupun terpaksa. Dialah yang Maha Memaksakan Kehendak. Tidak ada yang berhak menanyakan "Mengapa ini terjadi padaku?". Terima. Akui diri hanya hamba yang mengikuti kurikulum pendidikan dariNya. Jawaban mengapa suatu hal terjadi padamu adalah... jelas. Sebab Allah menginginkan itu terjadi padamu. Sudah tertulis di lauh mahfudz. Jauh sebelum dunia ini dicipta. Tugas kita hanya berbuat yang terbaik, hasil ditentukan olehNya.

Saya sendiri merasa, musibah adalah petunjuk. Bahwa tidak ada yang pantas diharap di dunia ini. Semuanya melelahkan, mengecewakan. Jauh nyata dari harap. Semakin besar cobaan, semakin besar pula muak pada dunia. Berapa lama lagi aku harus tinggal Ya Rabb?

Bahagia hanya sekejab. Sakit, lelah, sepi berlangsung setiap nafas. Hanya cahayaMu yang membuat saya bisa bertahan sampai detik ini. Namun saat membaca kisah para orang-orang shalih dalam kitab. Betapa ujian yang saya hadapi tak ada secuil pun dari mereka yang mulia. Para nabi dan rasul, serta keluarga dan sahabatnya adalah penawar. Obat dari segala kegusaran hati. Teladan akhlak dalam menyikapi semua persoalan yang kecil ini.

Baiklah, puasa week 2 kelas kepompong saya adalah begadang. Alhamdulillah lumayan berhasil menidurkan anak-anak di bawah jam 9 malam. Sehingga mereka bisa bangun sekitar jam 6 pagi. Kemudian belajar di rumah sampai siang. Lalu bermain bebas sampai sore waktunya video call dengan guru ngaji.

Rupanya banyak juga lho walimurid yang mengabaikan tugas-tugas dari sekolah. Kata bu guru, beberapa anak tidak mengumpulkan tugas. Orangtuanya juga tidak ada respon. Oh malangnya anak itu. Orangtuanya melalaikan pendidikan anaknya. Mungkin mereka hanya ingin menyerahkan kepintaran anak ke sekolah. Tak ada urusan orangtua mengajar apalagi membantu anak membuat tugas yang seabrek banyaknya.

Serius. Selama pandemik ini, tugas dari sekolah lebih banyak dari biasanya. Tugas orangtua jadi dobel-dobel. Biasanya mengurus pekerjaan, eh sekarang jadi mengurus tugas anak pula. Bayangkan yang punya 3 orang anak. Maka ada 3 tugas yang harus dikirim ke guru yang berbeda, setiap hari. Beratnya. Alhamdulillah anak saya cuma 1 yang sudah sekolah. Walau baru kelas TK B, ada lebih dari 1 tugas harian. Sebetulnya mudah jika yang mengerjakan ibunya. Tapi anak harus mengerjakan sendiri kan. Itu tanggung jawabnya dari sekolah. Nah jika ada yang masih meremehkan tugas ibu di rumah. Cobalah mereka itu merasakannya terlebih dahulu. Berat dan akan lebih berat jika dijalani bukan untuk ibadah menggapai ridho Allah.

#janganlupabahagia
#jurnalpuasamingguke2
#materi1
#kelaskepomponh
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Sabtu, 28 Maret 2020

Jurnal Puasa Kepompong Week 1 - Buncek

Assalamualaikum teman-teman pembelajar...

Istilah puasa ternyata bagus juga digunakan untuk membentuk kebiasaan baru. Tidak hanya puasa soal makan dan minum, ataupun ibadah. Lebih dari itu, kita bisa menerapkan konsep puasa dari hal-hal yang menjauhkan kita dari target produktif loh.

Contoh target produktif saya selama kelas kepompong satu bulan ini adalah menjadi youtuber. Sehingga dalam 30 hari saya ingin menghasilkan 30 video. InsyaAllah. Lumayan target yang tinggi bagi pemula. 1 hari 1 video. Sebab saya mengelola 2 channel youtube anak saya, yakni Rubichan Kids dan Super Roshan. Yup, 1 anak 1 channel karena aksi masing-masing anak berbeda sesuai usia dan jenis kelamin, otomatis target penontonnya juga beda.

Puasa apa saja yang saya lakukan? Berikut rencananya:

  1. Minggu pertama ini puasa dari media sosial. Artinya tidak membuka medsos kecuali untuk posting. Jadi tidak meluangkan waktu sama sekali untuk membuka medsos jika hanya sekedar scroll, kepo, atau searching tidak jelas. 
  2. Minggu kedua puasa dari begadang. Ingin cepat tidur dan cepat bangun. Ini juga berlaku bagi anak-anak. Tidak mungkin mamanya tidur duluan sementara anaknya masih main. Target bangun untuk mama adalah sebelum adzan subuh, sedangkan target bangun untuk anak adalah sunrise atau saat matahari terbit.
  3. Minggu ketiga puasa dari ngaret. Maksudnya saya harus lebih patuh dengan jadwal yang telah saya buat sendiri. Ada 10 rutinitas harian yang sudah terjadwal dengan rapi dan wajib saya ikuti karena saya yang membuatnya sendiri.
  4. Minggu keempat puasa dari blast. Blast singkatan dari bored, lonely, angry-afraid, stress, tired untuk anak. Artinya saya akan berusaha membuat anak tidak merasa blast. Terutama di masa karantina covid19 alis corona ini. Anak di rumah saja. Kegiatan parttime homeschooling berperan besar untuk menghilangkan blast pada anak.
Review puasa minggu pertama. Hasilnya menggembirakan! Alhamdulillah memang dasarnya saya bukan media-savvy sih ya. Jadi menghilangkan medsos dari hidup saya relatif mudah. Seminggu ini saya jika ada keinginan untuk membuka medsos, maka saya bertanya pada diri sendiri. Apa yang akan saya posting di medsos? sehingga saya pun membuka aplikasi produktif. Menulis konten dulu atau membuat video dulu. Kemudian baru buka medsos untuk posting dan share. 

Yup begitulah cara mudah untuk menghilangkan kebiasaan buruk dan sia-sia di medsos. Jangan sampai waktu habis untuk scroll tanpa tujuan. Jadikan medsos untuk belajar, berbagi, dan menghasilkan sesuatu. Selain daripada itu? tidak perlu. Alihkan waktu kita untuk kegiatan lain yang lebih manfaat dan berkah.


#janganlupabahagia
#jurnalpuasamingguke-1
#materi1
#kelaskepompong
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Selasa, 17 Maret 2020

Siap Jadi Kepompong


Assalamualaikum ibu-ibu pembelajar...

Berakhirnya kelas buncek tahap ulat-ulat pada minggu ini melegakan sekali. Setiap minggu, kami harus rela kehilangan teman belajar yang terpaksa harus menghentikan langkah di kelas. Mereka terkena drop out sebab tidak mengerjakan tugas sesuai deadline. Dengan jadwal yang intense, Rabu bertemu, kamis diskusi, Jumat merenung, Sabtu-Minggu hari keluarga sambil berpikir, Senin mulai mengerjakan, dan terakhir Selasa mengirimkan tugas.

Sungguh yang bertahan adalah para ibu pejuang cinta keluarga. Mau berletih mencerna materi. Sanggup mengatur waktu walau berpeluh. Tidak mengeluh di tengah pilu. Serta komitmen pada aturan demi ilmu pengetahuan.

Berapa banyak ibu di luar sana yang mampu menerima amanah dengan ikhlas, bahagia, dan penuh kepatuhan. Tentu lebih banyak yang abai daripada yang amanah. Itulah fitrah dunia. Tinggal kita mau berubah atau pasrah?

Pasrah pada kehidupan biar berjalan seperti air mengalir. Tanpa tujuan, batas waktu sampai kapan begini? Oh no. Itu adalah pilihan orang-orang yang menyerah. Buktikan bahwa kita adalah pejuang kebenaran. Mau berubah untuk kebaikan masa depan.



Saat ini diri kita terpapar pemikiran yang tidak sesuai ajaran s
ang Nabi. Akankah kita mencari jalan tuk kembali ataukah berdiam diri? Bahwa seorang perempuan memiliki potensi untuk berkarya setara dengan lelaki. Harus berpenghasilan sebesar lelaki. Berkiprah sama dengan lelaki. Tak ada batasan. Ya boleh. Boleh saja mengikuti pemahaman seperti itu jika perempuan itu mau dan mampu.  Sebenarnya perempuan tetaplah berbeda dengan lelaki. Secara fisik dan psikis, perbedaan itu nyata adanya. Sehingga akhirnya saya menerima kenyataan. Memutuskan untuk memilih setara dalam hal kehormatan, kemuliaan, literasi pengetahuan, dan ketaqwaan. Soal karya dan kiprah, saya memilih untuk produktif di ranah domestik. Sama-sama keren, bisa bekerja dan berpenghasilan. Hanya beda lajur arah, namun bertemu di persimpangan.

Sementara itu, anak kita terpapar gaya hidup serba instan sedari usia dini. Mau makan ada fast food. Jika bosan tinggal main games di handphone. Tidak bisa diam langsung diperlihatkan video youtube. Ingin jalan-jalan otomatis naik taksi online. Lalu saat keinginan tak dituruti yang terjadi adalah amukan besar. Dimana waktu bagi anak untuk mengerti adab, sopan santun, dan menghargai proses? Itu porsi orangtua di rumah. Sekolah sudah cukup repot dengan segala target kognitif pendidikan bagi otak. Bukan untuk jiwa dan perasaan anak. Jangan merasa telah selesai tugas setelah menyekolahkan anak. Itu hanya satu aspek kebutuhan. Sudah saatnya orangtua peduli untuk memberi asupan makanan bagi jiwa anak yang kering. Itulah sumber dari kenakalan remaja. Usia sudah di atas 15 tahun tapi perilaku kekanakan, jauh dari kata matang apalagi dewasa. Parah.

Komunitas ibu profesional menjawab tantangan jaman dengan mendewasakan sang ibu. Dialah garda terdepan dalam membentuk lingkungan keluarga. Unit terkecil dalam masyarakat yang mampu mengubah wajah generasi masa depan. Satu anak baik jauh lebih berhak mendapat penghargaan daripada anak yang sekedar pintar. Tentu lebih sempurna lagi jika para ibu profesional mampu mencetak generasi baik sekaligus pintar.  InsyaAllah.

#bundacekatan #kelasulat #institutibuprofesional #aliranrasatahapulat

Masterminds dan False Celebration