Senin, 10 Februari 2020

2020 Tahunnya Ngilmu

Assalamualaikum teman-teman pembelajar...

Sudah belajar apa di minggu ini? Dan apa perubahan yang sudah dilakukan sejak mendapatkan ilmu itu? Itulah satu indikator untuk menentukan keilmuan seseorang yaitu aplikasinya. Di kelas Bunda Cekatan ini ada 46 ruang kelas yang menarik. Tapi yang membuat saya tertarik hingga bergabung di grup wa nya ada 4 kelas seperti di gambar berikut ini.

Hanya yang sesuai dengan mindmap yang harus dipertahankan. Katakan menarik tapi tidak tertarik pada hal lain yang tidak sesuai. Dari 4 kelas yang saya ikuti, ada 3 yang fokusnya untuk anak: parenting, talent mapping, dan homeschooling. Kelas itu sesuai dengan konsep yang saya buat yakni part-time homeschooling untuk anak saya. Ilmu dan pengalaman yang telah saya lakukan beberapa kali saya share di media social instagram dan facebook. Nampaknya saya sangat enjoy dan passionate di bidang ini. Sedangkan 1 kelas yaitu literasi sifatnya mendukung 3 kelas sebelumnya.

Apa sih yang dipelajari di dalam kelas?
1. Parenting: cara-cara mengasuh anak sehingga ia mampu memahami fitrahnya sebagai manusia yang mulia. 
2. Homeschooling: cara-cara mengajar dan mendidik anak agar ia bisa mengeksplorasi beragam pengalaman dan mampu belajar secara mandiri sesuai dengan kemampuannya sendiri.
3. Talent Mapping: menggali bakat agar bisa menjalankan peran peradaban, menuntaskan misi penciptaan diri. Serta melihat apakah aktivitas harian sudah sesuai dengan potensi kekuatan pada bakat, sehingga tidak waste-time.
4. Literasi: Tiga hal di atas tidak akan mampu dilaksanakan tanpa literasi, yaitu keahlian tertentu dalam memecahkan masalah melalui jalur kognitif.

Ada perbedaan mendasar saat belajar di FBG dengan jumlah member ribuan orang dan WAG dengan member puluhan orang. Yakni fokusnya. Di WAG rasanya puas membahas satu tema oleh teman yang minatnya sama. Plong sekali. Diskusinya lebih dalam, pertanyaannya lebih spesifik, dan kesimpulannya lebih aplikatif. 

Rencana selanjutnya tinggal praktik di rumah dengan anak untuk mewujudkan part-time homeschooling ala saya. Apa yang sudah dilakukan memang sangat mudah untuk dibagikan. Sesuai dengan sunnah Nabi. Jangan katakan apa yang tidak kau lakukan. That is so true. Setelah melakukan sendiri dengan penuh kesungguhan, inside out akan terjadi. Alhamdulillah. Seolah menemukan fitrah bakat saya sendiri dari pertanyaan: what Allah wants me to do? Allah wants me to be what I am to be now. What amazing it is to finally found it. MasyaAllahhh.



Senin, 03 Februari 2020

Keluarga Tallents Mapping

Assalamualaikum teman-teman pembelajar...

Setelah minggu lalu berkutat dengan pencarian ilmu apa yang ingin saya pelajari sendirian. Di minggu ini rasanya makin tercerahkan. Awalnya saya mengira akan berjuang sendirian di hutan belantara ilmu kehidupan yang sangat luas di facebook group bunda cekatan. Oh ternyata ribuan siswa itu beberapa memiliki minat yang sama. Luar biasa penjurusannya berasa milih jurusan saat mau kuliah S1 dulu.

Apakah banyak siswa yang masih kebingungan? Nyatanya iya. Alhamdulillah saya termasuk yang lumayan pakai kacamata kuda. Fokus di parenting untuk anak saya tercinta saja. Sementara teman-teman lainnya bercerita bergabung dengan grup keluarga a, b, c kemudian keluar dan pindah grup. Nah kalau saya hanya gabung di grup wa keluarga talent mapping saja awalnya yang beranggotakan 33 orang. Kemudian tertarik ke keluarga yang parenting yang isinya 76 orang dan denah ruangannya banyak sekali. Alhamdulillah sangat nyambung dengan dua grup ini. Tapi disini saya lebih fokus ke keluarga talent mapping dulu.


Di grup ini suasana tidak ramai seperti grup buncek lainnya. Saya merasa sangat nyaman sekali. Semoga seterusnya bisa mempertahankan suasana ringkat bergizi tinggi seperti sekarang. Kami saling berkenalan, sharing pengalaman tentang TM dan workshop apa saja yang pernah diikuti. Wah banyak sekali yang sudah berkali-kali ikut seminar TM. Saya yang sangat haus TM ini disuguhi berbagai pengalaman praktek langsung oleh teman-teman. Alhamdulillah ilmu semuanya. Semoga anak saya bisa terbantu dengan adanya ibunya yang belajar TM ini.

Teringat kata pak Dodik, suami bu Septi, jika kita tak menggali minat bakat anak sejak usia dini. Yang akan terjadi ialah mereka salah jurusan, salah pekerjaan, kebingungan dengan siapa sih dirinya? Masih sibuk mencari jalan di usia dewasa. Oh betapa ruginya.

Waktu terbaik menggali minat bakat anak ialah di usia kecil. Saat kita masih bisa 24 jam bersamanya. Main bareng, ngobrol bareng, beraktivitas bareng. Coba kalau kita baru mulai di usianya yang 15 tahun? Dia sudah punya sahabat di luar, banyak tugas, dan banyak kegiatan yang tanpa kita. Apa mungkin ortu bisa melakukan observasi anaknya? Bisa tapi minim, tidak semaksimal saat usia kecilnya.

Kesimpulannya selama ini saya yang dulu pernah galau dengan profesi ibu rumah tangga ini. Sekarang sangat bersyukur sebab saya lah orang yang sangat mengerti dan mengingat apa saja yang pernah anak saya ucap dan lalui. Saya sangat tahu apa ia sukai dan tidak sukai. Saya mencatat kekuatan dan kelemahannya. Saya menyimpan semua foto, video, dokumentasi pencapaiannya di sekolah, lingkungan, rumah, dan semua. Alhamdulillah. Berarti saya tidak sekedar ibu, tapi juga konsultan talent mapping untuk anak saya.

Selanjutnya saya berencana akan membuat portofolio anak saya dengan rapi. Dituliskan, dibukukan, dan dipresentasikan saat dibutuhkan. Saat ini ia adalah anak aktif sehat ceria penuh semangat dan bercita-cita membuat kendaraan masa depan. Sedangkan hobinya ialah bela diri dan kegiatan fisik. Fasilitas yang saya berikan ialah les robotik, karate, dan gymnastic. Tempat les, sekolahan, dan ngaji merupakan partner saya untuk memetakan minat bakat anak. Mereka akan menjadi tempat bertanya saya bagaimana adab, perilaku, dan kecerdasan anak dalam bersosialisasi dan belajar di luar rumah. Sekolah tidak akan menjadi pabrik penyeragaman anak lagi, tapi jadi partner. Penentunya adalah orangtua. Wah benar-benar perfect. Semua anak adalah bintang bagi dunianya. Tinggal orangtuanya memantaskan diri untuk mendampingi bintang itu supaya bersinar, tidak meredup, apalagi mati. Semangat moms!

Selasa, 28 Januari 2020

Parenting Nabawiyah Masa Kini

Assalamualaikumwrwb...

Parenting adalah sebuah konsep pendidikan tentang keluarga. Sedangkan parenting nabawiyah ialah konsep pendidikan keluarga berdasarkan kenabian. Sumbernya jelas dari AlQuran dan Hadist. Ini menarik sekali. Kita bisa belajar cara berkeluarga dari manusia terbaik yakni Nabi Muhammad SAW.

Sudah jenuh kita melihat realitas permasalahan keluarga sehari-hari. Sebenarnya semua itu juga dialami oleh keluarga dan sahabat Nabi. Mereka bisa menyelesaikan masalah keluarganya dengan cara yang diridhoi Allah. Mengapa kita tak meniru mereka? teladan terbaik.

Inilah mengapa saya tertarik mempelajari ilmu parenting nabawiyah.
audio mengapa parenting nabawiyah?  Ada banyak sekali ilmu parenting di dunia ini. Namun hanya parenting ala Nabi yang akan membawa kita lebih dekat dengan Allah yang menitipkan keluarga (orangtua, pasangan, anak) kepada kita. Sudah seharusnya kita harus mengenalkan mereka kepada tuannya sebab kita semua hanyalah seorang hamba yang suatu hari akan berpulang ke Sang Pencipta.


Gambar di atas merupakan perbandingan metode parenting. Masing-masing punya kelemahan dan kelebihan. Namun saya meyakini parenting dari agama ialah yang terbaik. Sounds classic? ya inilah naif dari seorang fakir ilmu. Mohon dimaafkan :)

Selamat belajar.



Senin, 13 Januari 2020

Membuat Peta Belajar Mom Writer

Haloo Assalamualaikum..

Di pagi yang cerah ini saya mau berbagi mindmapping versi saya tahun 2020. Kenapa kok saya sounds so happy? sebab akhirnya saya merasa seperti judul besar pada blog ini. Back To Me. Benar-benar terwujud.

Dulu waktu kuliah sering banget bikin mindmapping model begini. Tapi setelah berumah-tangga dan bermasyarakat, saya pun tenggelam terkena arus gelombang kehidupan yang ganas. Haha. Lupa deh semua ilmu dan hilang arah tentang siapa dan apa yang harus dikerjakan. Ah semuanya melenakan. Sedikit sekali orang yang bisa menyelamatkan dalam diam. Hei! kamu itu adalah kamu.

Baiklah, saya paham secara garis besar tujuan hidup ini ialah beribadah menghamba pada Allah. Tapi tentang cara dan melalui apa diri ini bisa mengabdi? bingung. Ya ga sih. Pernah terpikirkan seperti itu gak sih. Tersesat kadang sendirian. Sampai waktu mempertemukanmu dengan "Aha moment". Oh aku tuh begini, I know who I am, I know where to go, what makes me happy, what is my values, my principles, and my ultimate inner peace.

Hari ini datang tuk post my mindmapping versi Januari 2020. Disclaimer bahwa ini bisa berubah di masa mendatang. Kata ajaibnya adalah hari ini adalah revisi dari hari kemarin. Dan esok adalah revisi dari hari ini. So enjoy everytime given to us. Ingat sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati. Yakan.


Mindmap Mom Writer
Ga jelas ya gambarnya? Duh maafkan. Susah nih bikinnya. Saya kesulitan bikin yang gede pula. Intinya di kelas bunda cekatan ini tujuan saya adalah menjadi mom writer. Kenapa? berdasarkan track record sebelumnya saya ada strenght disitu, bisa happy dan earn juga. Jadi semacam kembali lagi seperti saya yang dulu. Yang senang menulis. InsyaAllah.

#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Selasa, 07 Januari 2020

Ibu Rumah Tangga Profesional

Assalamualaikum teman...

Menjadi seorang ibu rumah tangga itu gampang-gampang susah. Disebut gampang karena pekerjaan domestik hanya di rumah. Monoton begitu terus setiap hari. Sulit untuk naik kelas apalagi promosi jabatan. Bosnya hanya satu, suaminya sendiri. Kliennya adalah anak-anaknya. Nah, seharusnya ibu rumah tangga bisa menentukan cara untuk naik kelas sebab ia tahu betul yang ia hadapi. Orang-orang yang sama. Lingkungan keluarga yang sama. Serta situasi harian yang mirip.

Susah gak sih? Jujur menurut saya susah memang. Sebab kuantitas tugas yang dibebankan pada ibu rumah tangga melebihi waktu dan tenaga yang dimilikinya. Sementara itu, semua tugas seolah penting dan mendesak untuk diselesaikan. Misalnya masak, belanja, mandiin anak, nyuapin, jaga anak, cuci baju, setrika, melayani suami, dan banyak lagi. Seluruh tugas itu dikerjakan sendiri, tak ada yang membantu. Jangankan melanjutkan cita-cita, bisa meluruskan punggung saja sudah bersyukur. 

Tanpa keikhlasan nampaknya tak mungkin rasa bahagia bisa muncul. Stress datang bertubi-tubi. Tugas belum selesai, datang anak merengek minta mandi, dan semisalnya. Dunia terasa sempit dan sesak. Saya sudah merasakannya. Pun berjuta ibu rumah tangga di luar sana. Pasti hafal dengan skema harian seperti itu. Jika dirinya sakit, maka otomatis rumah beserta seluruh penghuninya jadi tidak kondusif. Jadi ibu rumah tangga harus pandai menjaga kesehatan diri. Kebahagiaan dan keberlangsungan hidup rumah sangat bergantung padamu.

Pada tahap ke 3 di bunda cekatan ini, berikut cara belajar yang saya rencanakan. Tujuannya adalah naik kelas menjadi ibu rumah tangga berkarir penulis. Mengapa saya memilihnya? 
a. Pengalaman pernah sukses di dunia kepenulisan dulu
b. Suka baca, auto pingin bikin buku yang bisa dibaca khalayak juga
c. Flexible ruang dan waktu alias di rumah juga bisa


Selama ini saya sudah beberapa kali mengikuti kelas menulis yang diadakan oleh penulis maupun editor berpengalaman. Saya juga sudah membaca banyak buku karya mereka. Tentu saya ingin mengikuti jejak langkah mereka menjadi seorang penulis betulan. Rahasianya hanya satu yakni konsisten. Tetapkan target pribadi 1 hari 1 halaman tulisan. Tulis apapun yang ada di kepala dan biarkan dikoreksi oleh editor. Tugas penulis ya menulis, bukan ngedit. Kalau nulis sambil ngedit, biasanya tulisan tidak akan pernah rampung selamanya. 

Ada 5 ilmu yang ingin saya kuasai di kelas bunda cekatan ini. Antara lain:
1. Speed reading. Yup saya butuh banyak sekali baca sebagai amunisi menulis dan mendongeng buat anak. Selama ini saya merasa banyak waktu habis untuk membaca buku. Kalau membaca dengan kecapatan cahaya bisa dilakukan pasti lebih produktif.

2. To do list journaling. Sering lupa nih kalau tidak dituliskan dulu. Ada yang seperti saya? Fungsi bikin to do list di pagi hari selain pengingat juga untuk double cek prioritas pekerjaan yang harus tuntas hari itu.

3. 7 to 7 kandang waktu. Artinya saya hanya melakukan pekerjaan yang tidak saya sukai di luar jam 7am - 7pm. Dengan cara itu, ibu rumah tangga bisa bahagia. Waktu untuk bahagia lebih lama daripada yang tidak bahagia.

4. Playing preparation. Ini salah satu project baru yang belum pernah saya coba. Usaha supaya anak saya lebih bahagia karena main sama mamanya jadi lebih up date. Mamanya ga pernah mati gaya kalau main games.

5. Writing mindmap. Selama bukan jam menulis saya harus sudah menuntaskan alur cerita di kepala. Selanjutnya menuliskannya di kertas. Itulah mindmap tuk menghindari macet saat menulis. Tujuannya tentu agar target 1 hari 1 halaman tercapai.

Baiklah segitu dulu cerita minggu ini. Semoga realisasinya lancar dan menjadikan jejak langkah sebagai ibu rumah tangga profesional tercapai. Lega sekali tulisan ini rampung di tengah malam setelah menidurkan duo bocah. Alhamdulillah.

#janganlupabahagia
#jurnalminggu3
#materi3
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional



Senin, 23 Desember 2019

Ibu Rumah Tangga yang Tak Biasa

Assalamualaikum teman...

Membuat resolusi untuk tahun baru sudah biasa. Kali ini saya tidak membuat resolusi baru, cuma bikin kuadran prioritas dari kegiatan sehari-hari saja. Nah biasanya, aktifitas-aktifitas yang tidak baru katanya tidak seru. Sehingga dikerjakan tanpa kesungguhan. Sekedar menyelesaikan tugas, tidak maksimal karena semua dianggap biasa-biasa saja.

Aktifitas ibu rumah tangga yang itu-itu saja sebenarnya berpotensi jadi luar biasa. Syaratnya adalah kesungguhan. Misalnya mengurus anak yang suka matematika menjadi potensi bagi ibunya untuk menciptakan metode asik belajar matematika untuk anak kecil di rumah. Lalu kegiatan beberes rumah yang menjenuhkan berpotensi menjadi expert decluttering seperti Konmari method. Kemudian masak sehari-hari bisa menjelma jadi buku resep masakan andalan keluargamu.

Masalahnya saat ini adalah mindset ibu rumah tangga cenderung terkungkung oleh pekerjaan rumahan. Sehingga pikiran jadi ruwet, sumpek, tak bisa melihat celah bahwa aktifitas dalam rumah pun bisa jadi keahlian. Misal dulu kuliah kedokteran lalu akhirnya jadi ibu rumah tangga yang suka masak, tapi tidak suka kegiatan rumahan lainnya. Ya sudah fokus di kegiatan yang disukai saja. Potensi bisa menciptakan metode "mengobati anak sakit di rumah dengan resep masakan ala dokter". Karena dia tahu ilmu kedokterannya, serta tahu cara masak di rumahnya, dan tahu cara mengasuh anaknya. Andai ibu rumah tangga punya mindset belajar begini pasti ia sangat bahagia. Ternyata berada di dalam rumah bisa jadi excellent juga loh.

Hari ini adalah revisi dari hari kemarin. Tahun depan adalah revisi dari tahun ini. Saya suka sekali kalimat inspiratif dari Bu Septi ini. Beberapa dari kita mungkin sempat terkena krisis identitas. Sebab kita terbawa arus kerumunan pemikiran dari luar. Sebaliknya kita jarang sekali menyendiri. Merenungkan aku ini siapa? mau apa? Ini merupakan penanaman identitas pada diri sendiri. Jadi identitas itu harus ditanam, dipupuk, disiram tiap hari, kemudian baru berbuah.

Hasil perenungan identitas saya adalah seorang ummahatul muslimin (ibunya anak shalih). Hal yang paling saya suka ialah belajar. Paling tidak suka mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tapi tidak bisa diwakilkan karena tidak ada asisten. Oleh karena itu saya menerapkan 7am to 7pm. Artinya hanya mengerjakan pekerjaan yang tidak saya sukai di luar jam 7am - 7pm, sementara pada waktu itu saya hanya mengerjakan hal yang saya sukai supaya jadi expert.

Selanjutnya kuadran prioritas hasil perenungan saya sebagai berikut.

Untuk kuadran penting dan mendesak kita perlu "manage".
Kuadran penting dan tidak mendesak kita bisa "fokus".
Kuadran tidak penting dan mendesak kita bisa "tunda atau hindari".
Kudran tidak penting dan tidak mendesak kita harus "hindari".


Baiklah semoga hasil perenungan yang sedikit ini bermanfaat, menambah taat, dan mendatangkan rahmat dariNya. Untuk semua teman-teman seprofesi ibu rumah tangga. Temukan bahagiamu dan jadilah expert disana. Cari ilmu dan terus belajar karena esok harus lebih baik dari hari ini. InsyaAllah. Semangat!

Selasa, 17 Desember 2019

Back to Me

Assalamualaikum...

Tahun 2019 ini. Postingan blog ini hanya di awal dan di akhir tahun saja. Padahal menulis termasuk hal yang paling saya sukai. Mengapa begitu sulit tuk dilakukan? Ibarat cinta bertepuk sebelah tangan. Hati ingin menyatakan tapi harap jauh dari jangkauan.

Artinya kadang menjadi bahagia itu tidak mudah. Penuh perjuangan. Bahkan sekedar nulis tuk bahagia. Bagi ibu rumah tangga sok sibuk seperti saya. Nyatanya tak mampu. Huff.

Alhamdulillahhhh kelas bunda cekatan akhirnya dimulai. Pressure untuk nulis datang lagi buat ngerjain tugas. 😂 Duh saya ini. Memang benar kata orang bijak. Ikan kecil yang sendirian dalam kolam bisa cepat mati jika tak ditaruh ikan pemangsa yang bertugas membuat ikan kecil itu selalu aktif bergerak tuk survive.

Baiklah back to me. Dalam zona nyaman selama 5 tahun ini, menjadi ibu rumah tangga. Bisa dibilang saya senang. Tapi jiwa eksistensi belakangan ini sudah meronta ingin keluar. Back to me. Ingin berkarya lagi, lebih berguna, menyebar manfaat bagi sekitar. Seperti dulu sebelum profesi sekarang. Mungkin masa slow life telah usai. Saatnya bangkit lagi 😊.

Caranya mulai updating who I am now. Sama seperti apps di hp. Manusia juga perlu buat update. Baik di sadari atau tidak, sebenarnya diri kita sekarang telah jauh berbeda dengan dulu. Okay this is me today.

Fokus hanya di kuadran suka dan bisa dilakukan saat ini. Plus yang paling penting yakni membuat saya bahagia. Dengan begitu, saya akan komitmen tuk sungguh-sungguh melakukannya. Agar kegiatan ini tak lagi sekedar "hal yang biasa-biasa saja". Yakin deh segala yang dilakukan penuh kesungguhan pasti akan menjadi spesial!


1. Sekolah
Yup saya suka sekolah. Dulu pernah menjadi salah satu yang terbaik di kampus. Sekarang saya ikut dalam beberapa kelas online seperti institut ibu professional dan lainnya. Benar-benar aplikatif dan sesuai minat, sehingga saya bahagia.

2. Main sama anak
Definisi main disini adalah mendidik sambil main. Contoh aktifitas hariannya seperti building puzzles, minim TV dan gadged, olahraga, oprek dapur, crafting, mendongeng, beberes rumah juga termasuk hands-on experience agar anak mandiri. Hmm jadi kepikiran ide after school project with mom nih 😆. Supaya ibu jadi orang yang paling tahu bakat minat si kecil, tidak melepas pendidikan anak begitu saja ke sekolah.

3. Ngaji
Ini wajib sebagai umat Islam meyakini dan mempelajari agamanya sampai akhir hayat. Selalu haus ceramah agama yang melapangkan hati. Walau seringnya hanya streaming YouTube atau Spotify.

4. Baca buku
Uniknya dari dulu sd sering ke perpustakaan dekat rumah langganan komik. Lalu smp ganti bacaan ke majalah. Saat sma ikut ekskul jadi penjaga perpustakaan. Sama sekali ga keren di masa itu. Demi menikmati bebas sewa buku di sekolah. Lalu kuliah baca apapun yang menarik. Bahkan pernah beli buku anak sebelum punya anak. Haha. Dan sekarang kalap ikut grup jastip buku.

5. Nulis
Ini semacam buah yang di dapat dari hasil belajar dan banyak membaca. Dulu sudah sempat merasakan privilege dari kerja keras nulis karya ilmiah. Sayangnya vacuum pasca lulus kuliah. Semoga tahun 2020 bisa kembali berkiprah di dunia kepenulisan. Aamiin.

Lima prioritas suka dan bisa ini jadi motivasi yang update untuk 2020. Semoga gak sekedar wacana resolusi tahun baru seperti biasanya. Hiks. Kelas buncek harus jadi pressure tuk menghidupkan 5 tadi. InsyaAllah.

#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Masterminds dan False Celebration